Tel: (021) 7579 1377      Email: sekr-ptpsw@bppt.go.id

Berita

ANALISIS CITRA SATELIT CUACA 18 - 20 JANUARI 2021

Animasi citra satelit yang disediakan oleh GSMap JAXA - Jepang memperlihatkan perkembangan curah hujan setiap jam dari pukul 01:00 UTC tanggal 18 sampai dengan pukul 07:00 UTC tanggal 20 Januari 2021.

20012021

Animasi tersebut memperlihatkan pertumbuhan awan konveksi berpotensi hujan dan peningkatan laju curah hujan [mm/jam] di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI). Pembentukan awan hujan dan laju curah hujan tersebut berasal dari sebelah timur laut Samudera Hindia dan dari sebelah barat laut Australia. Pertemuan pembentukan awan hujan dari dari Samudera Hindia yang bersumber dari fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada di fase-4 yaitu berada di sebelah barat BMI dan dari Samudera Pasifik yang bersumber dari fenomena La Nina kuat bertipe konvensional, perlu diwaspadai akan terjadi peningkatan curah hujan ekstrim dalam kurun waktu 3-11 hari yang akan datang di wilayah Indonesia terutama pada belahan bumi selatan (Sumatera Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebelah selatan Pulau Kalimantan dan sebelah selatan Pulau Sulawesi). Perlu diwaspadai periode kritis potensi banjir akibat peningkatan curah hujan di wilayah tersebut yang diduga terjadi pada kurun waktu 14-21 hari yang akan datang. (Analisis dari Andri Purwandani, PUI TASDA-PTPSW BPPT)

BERAKHIRNYA TAHUN 2020 DAN AWAL TAHUN BARU 2021: SETAHUN TUMBUH KEMBANG SI ANAK CANTIK LA NINA (BAGIAN-3: SETAHUN ANOMALI TINGGI MUKA LAUT HARIAN) TULISAN TERAKHIR MENGENAI LA NINA DARI HASIL KAJI-TERAP PTPSW-BPPT

Hai Mitra Teknopren, apa kabarnya saat ini? Mudah-mudahan selalu bahagia setiap saat… Tak terasa saat ini adalah tulisan berbagi hasil kaji-terap PTPSW-BPPT yang ke-14 semenjak PTPSW menyatakan telah terjadi fenomena La Nina pada tanggal 24 September 2020 di BMI dan ditengarai akan berkembang menjadi La Nina kuat bertipe konvensional seperti yang saat ini sedang terjadi. Oleh karena itu, tulisan ini adalah tulisan terakhir (tulisan penutup) mengenai apa itu ENSO, El Nino, La Nina dan bagaimana proses terjadinya La Nina, proses dinamika pertumbuhan dari La Nina lemah ke La Nina kuat serta apa yang terjadi dari hasil interaksi La Nina dengan darat-laut-atmosfer berikut dengan fenomena lain yang mengiringinya meliputi Madden Julian Oscillation (MJO), Monsun dan Indian Ocean Dipole (IOD). Begitu pula telah dijabarkan pada tulisan sebelumnya dengan sesederhana mungkin bagaimana fenomena La Nina memberikan kontribusi peningkatan anomali curah hujan di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Mitra Teknopren, jika ingin mengetahui bagaimana perkembangan kondisi curah hujan pada hari-hari atau bulan-bulan yang akan datang dapat memantau informasinya melalui Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). PTPSW-BPPT dirasa telah cukup mengulas La Nina dengan hasil kaji-terapnya berikut inovasi yang telah ditawarkan pada tulisan sebelumnya untuk diterapkan secara operasional di BMKG.

Nah Mitra Teknopren pada tulisan minggu lalu di bagian ke-2, PTPSW-BPPT telah mengulas bagaimana perkembangan pertumbuhan La Nina “si anak gadis cantik” yang dilihat dari pergerakan rambatan anomali kedalaman dinamik absolut (KDA) di Ekuatorial Samudera Pasifik. Hasil ulasan minggu lalu telah menyingkap apa itu KDA, peranan KDA terhadap La Nina, bagaimana pertumbuhannya dan kematangan KDA terkait dengan La Nina kuat. Sementara itu, pada bagian ke-3 ini, PTPSW-BPPT akan mengulas mengenai tumbuh kembang “si anak gadis cantik” La Nina terhadap anomali tinggi muka laut (TML) di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Pada tulisan ke-2 dan ke-3 ini adalah tulisan yang saat ini masih jarang diketahui peranannya karena sedikit sekali yang meneliti dan mengkaji mengenai hal ini. PTPSW-BPPT mencoba membuat kaji-terap tersebut untuk melihat potensi inovasi sebagai terobosan bagaimana anomali KDA dan TML dapat dimanfaatkan sebagai prediktor La Nina dengan prediktannya parameter lainnya misalnya curah hujan, potensi banjir, tinggi gelombang, khlorofil-a dan lain-lain.

 AnomaliTinggiMukaLautHarian

 

Yuk Mitra Teknopren, sekarang kita mencoba mengulas perkembangan anomali TML di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik dan Hindia untuk memantau tumbuh kembang si anak gadis La Nina. Sebelum kita mengulasnya, ada baiknya kita membahas dulu apa itu TML dan apa bedanya dengan KDA. TML adalah ketinggian permukaan laut dari rata-rata tinggi muka laut atau sering disebut dalam bahasa umumnya adalah mean sea level (MSL). Sementara itu, MSL adalah level ketinggian rata-rata pada muka air di bumi pada suatu lokasi. Sedangkan kalau Mitra Teknopren ingat kembali, KDA adalah ketinggian permukaan air dari geoid laut. Okeh ya, dari sini Mitra Teknopren sudah paham kan beda antara TML dan KDA. Lantas apa hal prinsip penerapan dari TML dengan KDA. Jika KDA sangat dipengaruhi oleh medan gravitasi bumi, angin dan arus serta termasuk gaya gravitasi benda-benda langit lainnya, sementara itu TML hanya dipengaruhi oleh gravitasi bumi dan benda-benda langit lainnya seperti matahari dan bulan. Titik referensi KDA berdasarkan geoid laut dan titik referensi TML adalah berdasarkan rata-rata muka laut. Nah sudah paham kan Mitra Teknopren…

Sekarang yuk kita lanjut… mari kita mulai dengan mengamati animasi anomali tinggi muka laut harian dari tanggal 1 Januari - 31 Desember 2020 di bawah ini ya... Respon pertumbuhan La Nina dari anomali tinggi muka laut dapat terlihat dengan jelas di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia dan Pasifik. Rambatan pergerakan anomali TML positif di sepanjang ekuator Samudera Hindia terlihat semu bergerak dari sebelah barat ke arah timur dan rambatan ini disebut Gelombang Kelvin. Sementara itu, anomali TML positif bergerak dari arah timur ke arah barat di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik membentuk rambatan gelombang yang disebut Gelombang Rossby. Pada ekuatorial Samudera Hindia, rambatan Gelombang Kelvin ini mulai terbentuk pada semenjak awal tahun dan mulai terlihat propagasi yang cukup kuat kearah timur terjadi setelah bulan Mei 2020 sampai akhir Desember 2020. Mitra Teknopren mungkin ada yang mengamati sepertinya arah gerakan anomali TML di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia tidak bergerak dari barat ke arah timur tapi dari arah sebaliknya yaitu dari arah timur ke arah barat. Pandangan mata Mitra Teknopren tidak salah dan memang benar gerakannya ke arah barat. Hal ini adalah memang dalam kondisi normalnya anomali TML selalu bergerak ke arah barat karena pengaruh perputaran bumi pada porosnya yaitu bergerak dari arah timur ke arah barat sehingga reaksi permukaan laut terhadap gaya gravitasi benda-benda langit turut pula mengikuti pergerakan rotasi bumi sehingga arah gerak normalnya adalah dari timur ke arah barat. Ketika datang fenomena si anak gadis La Nina, terutama La Nina kuat bertipe konvensional maka anomali TML positif terlihat berubah arah menjadi berkebalikan dari arah barat ke arah timur menuju ke perairan sebelah barat Indonesia.

Sementara itu, di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik pada kondisi normalnya anomali TML positif umumnya berada di tengah ekuatorial karena respon medan gravitas bumi terlemah terhadap gaya gravitasi benda-benda langit berada di tengah paparan Samudera Pasifik. Ketika si anak gadis La Nina mulai menunjukan kelahirannya, yaitu pada awal April 2020 dan berlanjut semakin jelas pada bulan September 2020, maka anomali positif TML bergerak ke arah barat dan berkumpul di perairan sebelah timur ekuatorial perairan Indonesia. Oleh karena itu, pada akhir Desember 2020 di perairan Indonesia dan sekitarnya secara merata memiliki anomali TML yang positif. Inilah salah satu ciri bahwa periode La Nina 2020/21 saat ini adalah La Nina kuat bertipe konvensional.  Yuk sekarang Mitra Teknopren juga melihat pada gambar diagram Hovmoller anomali TML harian di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia dan Pasifik pada lintang 0.125°LS dari tanggal 1 Januari – 31 Desember 2020. Di Samudera Pasifik, dari awal tahun 2020 anomali positif TML berada di tengah ekuatorial. Kemudian, mulai bergerak secara signifikan pada awal Maret. Penumpukan massa air hangat akibat anomali TML positif mulai terjadi di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik yaitu pada bulan April sampai dengan akhir Agustus. Anomali positif TML semakin meningkat dengan kuat terjadi pada pertengahan September 2020. Selama periode September sampai dengan Desember 2020, anomali positif TML selain di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik, juga terjadi anomali TML positif di sebelah timur ekuatorial Samudera Hindia. Hal inilah pula semakin meyakinkan bahwa periode La Nina 2020/21 saat ini adalah periode La Nina kuat bertipe konvensional. Peningkatan anomali positif TML di seluruh perairan Indonesia dan sekitarnya, termasuk perairan dalam Indonesia telah memiliki anomali positif TML. Hal ini menunjukan pula keterkaitan dengan penumpukan massa air hangat yang terjadi di perairan Indonesia dan sekitarnya dari pembahasan berbagi hasil kaji-terap PTPSW-BPPT pada bagian ke-1 yaitu tentang anomali suhu permukaan laut harian pada waktu lalu.

Demikian Mitra Teknopren yang baik hati… dengan berakhirnya tulisan yang ke-14 ini, maka PTPSW-BPPT telah selesai berbagi hasil kaji-terapnya mengenai La Nina. Semoga pengetahuan, inovasi dan terobosan ilmiah yang telah kami sampaikan sebanyak 14 tulisan semi ilimah ini dapat menambah wawasan, khasanah ilmiah dan semangat baru untuk tetap berkontribusi membangun bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini. Tujuannya adalah agar bangsa dan negara Indonesia dapat lebih berkembang dan maju menyongsong era transformasi digital dengan  penguasaan teknologi Big Data Kebumian dengan kecerdasan buatan. Dengannya kita diharapkan mampu untuk menguak misteri terpendam pada alam raya ciptaan Alloh SWT Tuhan yang Maha Pencipta untuk dipahami dan dimengerti prilakunya.

 

MODEL PREDIKSI KECEPATAN DAN ARAH ARUS SERTA PASANG SURUT WILAYAH PERAIRAN JATUHNYA PESAWAT SRIWIJAYA AIR SJ-182 (5°58'7.34"LS - 106°34'13.62"BT)

Kegiatan pencarian dan evakuasi korban, pencarian Black Box (kotak hitam) yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan pengumpulan puing-puing pesawat untuk dijadikan bukti investigasi pelengkap dari FDR dan CVR sebaiknya memperhatikan kondisi perairan saat ini dan beberapa hari kedepan.

 

prediksi arus SJY-182

Pola sirkulasi arus laut yang terdiri dari arah dan kecepatan arus sangat diperlukan untuk melakukan estimasi pergerakan obyek dari pesawat yang jatuh di perairan laut tersebut.

Pada animasi di atas, disajikan pola sirkulasi arus permukaan laut setiap satu jam sekali dari hasil prediksi luaran model hidrodinamika antara tanggal 19 - 27 Januari 2021. Animasi dari hasil pemodelan pada hari sebelumnya dapat lihat pada tauan di dibawah ini:

Panjang panah menunjukan kecepatan arus [m/s] dengan skala panjang panah dapat dilihat pada legenda dibawah. Kontur berwarna dari merah, kuning, hijau, biru sampai dengan biru muda adalah kecepatan arus [m/s]. Waktu pada animasi adalah dalam UTC. Pola sirkulasi arus ini dihasilkan dari pemodelan hidrodinamika dari luaran model Mercator Global Ocean Analysis and Forecast System – European Union. Pemodelan ini menghasilkan pola arus yang dibangkitkan oleh arus navier-stokes, angin, pasang-surut (pasut) dan gelombang.

Begitu pula dengan kondisi pasut perairan baik pada saat ini maupun beberapa hari kedepan. Pada gambar dibawah ini menyajikan prediksi tinggi muka laut (pasut) dari tanggal 08-14 Januari 2021. Pola pasut di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 memiliki tipe pasut diurnal (harian) yaitu dalam satu hari terdapat satu kali surut terendah dan satu kali pasang tertinggi. Tunggang pasut di lokasi ini adalah sebesar 0.9 meter. Menjelang tanggal 12 Januari 2021 nanti akan mengalami puncak tunggang pasut terbesar.

 

Grafik Prediksi Pasut SJY-182 11 Jan 2021

Pola sirkulasi arus di sekitar perairan ini, dominan sangat dipengaruhi oleh beda fase antar siklus pasut. Selain itu, pengaruh angin permukaan laut yang pada saat ini merupakan puncak dari Musim Barat dengan potensi terjadinya curah hujan di atas normal sangat besar karena saat ini diiringi dengan datangnya fenomena La Nina konvensional bertipe kuat. Kondisi angin permukaan laut pada Musim Barat dan pada saat terjadi La Nina kuat akan menghasilkan anomali kecepatan yang cukup besar sehingga dapat menimbulkan potensi terjadi gelombang besar mencapai 1-2 meter di sekitar perairan ini. Pemodelan tracking object bawah laut dari hasil pemodelan hidrodinamika ini kedepannya akan dilakukan untuk menduga posisi serpihan puing bawah laut dari pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

BERAKHIRNYA TAHUN 2020 DAN AWAL TAHUN BARU 2021: SETAHUN TUMBUH KEMBANG SI ANAK CANTIK LA NINA (BAGIAN-2: SETAHUN ANOMALI KEDALAMAN DINAMIK ABSOLUT HARIAN)

Hai Mitra Teknopren, minggu lalu pada bagian ke-1 PTPSW-BPPT telah mengulas bagaimana perkembangan pertumbuhan La Nina “si anak gadis cantik” yang dilihat dari pergerakan rambatan anomali suhu permukaan laut di Ekuatorial Samudera Pasifik. Hasil pembahasan minggu lalu telah terungkap bagaimana si anak cantik La Nina dengan massa air hangatnya bergerak sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik seiring dengan karakteristik Gelombang Rossby yang mengumpulkan massa air hangat tersebut di perairan ekuatorial sebelah timur Indonesia membentuk apa yang dinamakan kolam air hangat (warm water pool) dalam jumlah yang lebih besar dari kondisi normalnya. Nah kali ini, sesuai dengan janji kita minggu lalu akan membahas hal yang jarang diketahui orang pada umumnya yaitu bagaimana prilaku rambatan anomali Kedalaman Dinamik Absolut (KDA) di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Tetapi sebelumnya, apakah Mitra Teknopren sudah tahu apa itu anomali KDA…? Sebelum memahami KDA, Mitra Teknopren perlu diperkenalkan dengan istilah Marine Geoid (Geiod Laut). Geoid laut atau kita sebut selanjutnya satu kata saja yaitu geoid adalah bentuk paparan muka laut dengan asumsi tidak adanya gaya gangguan pada permukaan laut tersebut dari pasang surut, angin, arus dan lain-lain. Geoid ini adalah merupakan permukaan laut cerminan dari medan gravitasi bumi yaitu permukaan ekuipotensial. Geoid ini dipengaruhi oleh distribusi massa bumi yang beragam dan tidak merata dari mulai permukaan sampai inti bumi.

Nah Mitra Teknopren, sementara itu KDA adalah rata-rata tinggi muka laut yang dihitung dari muka laut sampai dengan geoid sehingga anomali KDA adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) tinggi muka laut dari geoid terhadap kondisi normalnya. Perubahan tinggi muka laut ini sangat terkait dengan pembentukan arus permukaan laut yang dihasilkan tanpa dipengaruhi friksi angin di atas permukaan laut dan pengaruh pasang surut dari gaya gravitasi benda langit seperti bulan dan matahari. Perbedaan karakteristik massa air perairan terutama massa jenis air laut pada kolom permukaan maupun kolom kedalaman perairan akan membentuk pola sirkulasi arus di permukaan maupun pada suatu kolom kedalaman perairan tertentu. Pola sirkulasi arus yang tanpa dipengaruhi oleh angin permukaan laut dan arus yang terbentuk dari perbedaan fase pasang surut ini akan memperlihatkan bagaimana peranan arus dari KDA untuk terbentuknya proses transisi dari La Nina lemah ke La Nina moderat sampai ke La Nina kuat tipe konvensional.

AnomaliKedalamanDinamikAbsolutHarianBag2

Seperti Mitra Teknopren ketahui dari ulasan hasil kaji terap PTPSW-BPPT sebelumnya mengenai La Nina 2020/21, bahwa ketika terjadi fenomena La Nina, Angin Pasat Tenggara dan Angin Pasat Timur Laut berhembus dengan kuat di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Dorongan angin ini mengakibatkanmassa air di sepanjang ekuatorial akan terdorong dari sebelah timur ekuatorial Samudera Pasifik ke arah barat sampaidi perairan sebelah timur Benua Maritim Indonesia (BMI) yaitu berada sebelah utara perairan Papua. Kondisi ini berlangsung dalam kurun waktu berbulan-bulan sehingga terjadi penumpukan massa air di perairan sebelah utara Papua karena aliran massa airnya sedikit terhalang oleh paparan Benua dan pulau-pulau di Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik. Semakin tertumpuknya massa air ini dan karena terhalang aliran massa air yang melewati Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) atau Indonesia Throughflow (ITF) maka dengan adanya persamaan kontinyuitas mau tidak mau penumpukan massa air ini akan bergerak ke arah atas. Oleh karena itu, maka kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan tinggi muka laut akibat penumpukan massa air karena dorongan angin permukaan laut.

Nah tentunya Mitra Teknopren berfikir, lantas kaitanya dengan anomali KDA apa…? Mari kita lanjut mengulasnya… Selain penumpukan massa air yang terjadi karena dorongan angin, ternyata dipengaruhi pula oleh terjadinya perubahan dari karakteristik massa air itu sendiri karena penumpukan massa air tersebut yang mengakibatkan parameter suhu, salinitas dan tekanan air laut akan berubah. Perubahan ini akan mengakibatkan terjadi perubahan densitas (massa jenis) air laut dan peningkatan volume massa air laut. Peningkatan volume massa air laut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan tinggi muka laut dari geoid. Peningkatan tinggi muka laut dari geoid inilah yang disebut sebagai anomali KDA. Pada animasi anomali KDA harian dalam setahun dari tanggal 1 Januari – 31 Desember 2020 di bawah ini, Mitra Teknopren dapat mengamati bagaimana pergerakan rambatan anomali KDA di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik sampai akhirnya lahirlah si anak gadis cantik yang bernama La Nina. Mitra Teknopren juga dapat mengamati bagaimana La Nina ini terbentuk menjadi La Nina Konvensional bertipe kuat.

 

Mitra Teknopren sudah paham kan tentang penjelasan diagram hovmoller pada ulasan kaji terap minggu lalu… Yuk kita lihat kembali tapi dengan parameternya yaitu anomali KDA. Diagram hovmoller pada gambar memperlihatkan dari bulan Januari sampai dengan akhir Maret 2020, kondisi anomali KDA masih dalam status normal dimana Angin Pasat Tenggara dan Timur Laut masih berhembus dengan normal. Terlihat bahwa anomali KDA maksimum masih berada pada sekitar 150°-185°BT. Sepanjang bulan Maret terjadi penurunan anomali KDA. Kondisi ini relatif normal karena terjadi pelemahan Angin Pasat. Akan tetapi ketika memasuki bulan April, anomali KDA terdorong oleh Angin Pasat dengan sangat kuat ke arah barat sampai pada 125°-160°BT terdorong memasuki ke arah perairan sebelah utara Papua. Kondisi ini perlu diperhatikan dan dipantau terus-menerus sampai kurang lebih 3-5 bulan kedepan. Apabila kondisi ini tetap terjadi selama lebih dari 5 bulan kedepan maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi fenomena La Nina. Selain itu, perlu dipantau kembali kondisi anomali KDA di perairan dalam Indonesia di sekitar 115°BT, apabila terjadi peningkatan anomali KDA setelah kurun waktu 5 bulan tersebut secara terus menerus maka dapat dipastikan bahwa telah terjadi fenomena La Nina kuat bertipe konvensional. Sampai dengan saat ini, di perairan dalam Indonesia telah terjadi peningkatan anomali KDA dengan nilai anomali positifnya bertahan sebesar di atas 1.25 meter. Kondisi ini semakin menguatkan bahwa fase La Nina saat ini adalah merupakan La Nina bertipe kuat. Seiiring dengan telah memasukinya puncak musim hujan di bulan Januari 2021 diiringi dengan La Nina kuat bertipe konvensional dan menjelang masuknya MJO pada fase-4 dan 5 di Benua Maritim Indonesia maka agar diwaspadai terjadi peningkatan curah hujan yang diduga cukup ekstrim di Pulau Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, NTB dan Pulau Kalimatan sebelah barat.

Selain itu, anomali KDA ini dapat digunakan pula untuk mengetahui lebih dini kapan mulai melemahnya fase La Nina kuat yang saat ini sedang terjadi. Kenapa anomali KDA ini dapat dijadikan indikator atau prediktor melemahnya fase La Nina? Tentunya ada penjelasan saintifik akan tetapi terlalu panjang untuk diceritakan. Secara singkat, bahwa apabila anomali KDA mulai menurun maka telah terjadi arus balik yang bergerak dari sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik menuju tengah dan timur ekuatorial Samudera Pasifik dan diikuti dengan massa air hangat yang akan menstabilkan kondisi dinamika dan variabilitas laut-atmosfer di ekuatorial Samudera Pasifik. Jika telah berada pada posisi setimbang maka dinamika interaksi darat-laut-atmosfer termasuk intensitas curah hujan di BMI akan kembali menjadi normal seperti sedia kala. Kapan itu terjadi Mitra Teknopren…? Mari kita tunggu perkembangannya. Sampai disini dulu ya ulasan dari kami PTPSW-BPPT untuk berbagi hasil kaji terap kami. Minggu depan hari Rabu tanggal 20 Januari 2021, kita akan coba berbagi hasil kaji terap kembali dengan tema yang sama bagian ke-3 tapi parameter yang berbeda yaitu Anomali Tinggi Muka Laut. Nah lhoh… apa bedanya anomali tinggi muka laut dengan anomali KDA. Yuk kita simak nanti minggu depan ya…

BERAKHIRNYA TAHUN 2020 DAN AWAL TAHUN BARU 2021: SETAHUN TUMBUH KEMBANG SI ANAK CANTIK LA NINA (BAGIAN-1: SETAHUN ANOMALI SUHU PERMUKAAN LAUT HARIAN)

Telah datang tahun 2021 dan telah setahun kita menjalani kehidupan dengan segala berkah dan karunia dari Alloh SWT, Tuhan semesta alam dengan tetap tidak melupakan rasa syukur kepada-NYA untuk meninggalkan segala sesuatu yang buruk di tahun 2020 dan bersiap untuk memberikan yang terbaik di tahun 2021. Ketemu kembali Mitra Teknopren dengan kami PTPSW-BPPT untuk berbagi hasil kaji-terap teknologi kami mengenai sistem kebumian terutama mengenai isu nasional La Nina 2020/21. Kali ini kita akan mengulas bagaimana pertumbuhan bayi mungil si cantik La Nina tumbuh kembang menjadi gadis manis dengan senyum yang menawan berdampak curah hujan yang berlebihan di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI). Mitra Teknopren tentunya sudah tahu kan kalau El Nino itu dalam bahasa Peru artinya “anak laki-laki” dimana ketika fenomena iklim ini datang mereka menyebutnya El Nino de Navidad. Nah kalau “anak gadis”-nya disebut La Nina. Jadi Mitra Teknopren sudah paham kan kenapa kita menyebutnya pertumbuhan bayi mungil La Nina menjadi gadis manis dengan senyumnya yang bisa berakibat banjir di Indonesia hehehe…

06012021

Yuk kita bahas tumbuh kembangnya si anak gadis satu ini selama setahun terakhir di tahun 2020 yang lalu. Pada awal tahun 2020 di bulan Januari, massa air hangat masih menyebar hampir merata di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik dengan secara umum lebih berkumpul di tengah ekuatorial Samudera Pasifik. Kondisi ini, seringkali disebut sebagai Pseudo El Nino atau disebut pula El Nino Modoki yaitu El Nino semu atau palsu dimana dampak kemarau panjang di Indonesia hanya sedikit dirasakan di wilayah tertentu. Pada akhir bulan Januari sampai dengan Maret 2020, massa air hangat sempat terdorong oleh Angin Pasat Tenggara dan Timur Laut di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik dan berkumpul di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik. Pada bulan berikutnya yaitu April, massa air hangat kembali menyebar di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik yang diduga disebabkan oleh melemahnya Angin Pasat. Mitra Teknopren dapat melihat film tumbuh kembangnya si gadis cantik ini dari animasi Anomali Suhu Permukaan Laut Harian dari 1 Januari - 31 Desember 2020 di bawah ini ya…

Berakhirnya Tahun 2020 Dan Awal Tahun Baru 2021: Setahun Tumbuh Kembang Si Anak Cantik La Nina

Pada periode bulan Mei - Juni 2020, massa air hangat kembali terdorong oleh Angin Pasat ke arah sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik. Setelah periode ini yaitu di bulan Juni-Agustus, terjadi gangguan angin baratan (westerly wind burst) di sekitar 90° – 30°BB ekuatorial Samudera Pasifik sehingga melemahkan Angin Pasat kembali. Nah Mitra Teknopren, memasuki bulan September 2020 telah dipastikan fase awal si gadis cantik La Nina terlihat telah lahir dimana tanda-tanda sebelumnya kalau kita ibaratkan seperti pertumbuhan bayi di dalam kandungan dengan tanda perut ibunya yang makin membesar… Seperti yang telah PTPSW-BPPT sampaikan pada berita di website kami dengan judul “Perkembangan Kondisi Anomali Laut-Atmosfer Saat ini. ENSO: La Nina dan IOD: Fase Negatif”. Mitra Teknopren dapat melihat pada alamat di bawah ini:

https://ptpsw.bppt.go.id/index.php/berita/208-perkembangan-kondisi-anomali-laut-atmosfer-saat-ini

Nah pada periode selanjutnya yaitu dari bulan September – Desember 2020, fase La Nina semakin terbentuk dengan jelas diiringin dengan anomali suhu permukaan laut yang semakin negatif dari mulai 160°BT sampai dengan 30°BB. Angin Pasat Tenggara dan Timur Laut semakin menguat mendorong massa air hangat ke arah sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik sehingga di perairan BMI menjadi regim zona tekanan rendah yang memicu terjadinya area konvergen. Area konvergen ini akan memicu masuknya massa udara dengan kandungan uap air yang tinggi di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Peningkatan massa udara dengan kandungan uap air yang tinggi ini akan membangkitkan awan konveksi yang akan mengakibatkan peningkatan curah hujan di wilayah BMI. Mitra Teknopren dapat memantau perkembangan si cantik La Nina di sepanjang tahun 2020 pada gambar diagram Hovmoller dimana pada sumbu-x adalah bujur dari 30°BT di sebelah timur Benua Afrika sampai dengan  30°BB di sebelah barat Benua Amerika pada ekuatorial di 0.125°LS. Sumbu-y menunjukan waktu yang mencerminkan bagaimana pergerakan massa air hangat dengan anomali suhu permukaan laut positif bergerak di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik dari arah timur ke arah barat menuju perairan sebelah timur Indonesia.

Begitu deh Mitra Teknopren gimana ceritanya si anak cantik La Nina tumbuh kembang dengan baik dari hasil ciptaan Alloh SWT pencipta alam semesta jagat raya dan seisinya. Sudah kebayang kan Mitra Teknopren… Kalau masih belum paham bagaimana La Nina lahir, tunggu kami di berbagi hasil kaji-terap PTPSW-BPPT minggu depan hari Rabu tanggal 13 Januari 2021 pada bagian ke-2 yaitu dengan judul “Berakhirnya Tahun 2020 dan Awal Tahun Baru 2021: Setahun Tumbuh Kembang Si Anak Cantik La Nina (Bagian-2: Setahun Anomali Kedalaman Dinamik Absolut Harian)”… Apa itu Kedalaman Dinamik Absolut…? Tunggu kami minggu depan ya Mitra Teknopren…

Subcategories

Statistik Pengunjung

1.png5.png7.png7.png4.png2.png
Today111
Yesterday154
This week559
This month2496

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) - BPPT 

Gedung Geostech 820 Kawasan Puspitek Serpong

Telp. 021.75791377, 021.75751379; Ext. 9025/4404

Fax. 021.75791401

    logo iso qm