Tel: (021) 7579 1377      Email: sekr-ptpsw@bppt.go.id

Berita

Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Laporan Akhir Kerangka Sampel Area (KSA)

   

       3

      Kamis(21/11/2019)  tim Kerangka Sampel Area (KSA) BPPT bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan kegiatan penyusunan laporan akhir kegiatan KSA 2019. Bapak Hermanto selaku Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, menyatakan bahwa BPS sedang mendorong kegiatan ini untuk diagendakan ke dalam agenda Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan juga kegiatan KSA sudah dipublikasikan pada konferensi luar negeri sehingga beberapa negara tertarik untuk belajar KSA. Pada kesempatan ini Bapak Heri Sadmono selaku koordinator kegiatan KSA BPPT juga memaparkan rencana kegiatan  transisi KSA dari BPPT ke BPS. Rencana kedepannya untuk kegiatan ini perlu dibuat dashboard yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan para penentu kebijakan dalam bidang pertanian misalnya penentuan kebutuhan pupuk dan benih. Harapannya akan ada kelanjutan implementasi metode KSA yang akan di inisiasi di tahun 2020 dan pemutakhiran segmen jagung serta komoditas lain menggunakan KSA

Kerangka Sampel Area (KSA) Komoditas Jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur

       2a

 Foto besama di depan Kantor BPS Manggarai Barat

    Kegiatan monitoring KSA Komoditas jagung ini merupakan bagian dari kegiatan Pembangunan Kerangka Sample KSA Komoditas Jagung dan Uji implementasi KSA Jagung dan untuk monitoring kali ini dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Monitoring dilakukan terlebih dahulu dengan melakukan pengecekan hasil amatan yang sudah dilakukan oleh para Petugas Pencacah Sample (PCS) pada survey KSA bulan September 2019. Para PCS melakukan pengamatan, pencatatan dan pelaporan fase tumbuh jagung di segmen yang sudah ditentukan. Secara umum informasi pencatatan tediri atas, fase tumbuh jagung (kode 1 sampai kode 8), kode 9 adalah kode untuk lahan pertanian yang ditanami bukan jagung dan kode 10 adalah titik amat berupa bukan lahan pertanian seperti rumah, jalan, hutan dan sebagainya.

     Hasil pengamatan pada bulan September 2019 sebanyak 50% segmen di Prov NTT menunjukkan hasil amatan berupa fase tumbuh jagung. Monitoring saat ini dilaksanakan di Kabupaten Manggarai Barat kabupaten paling barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil diskusi dengan para staf seksi Statistik Produksi, Pak Heri, Pak Siprianus Jehadun menginformasikan bahwa saat ini sebagian besar lahan jagung di Kabupaten Manggarai Barat belum ditanami karena masih kemarau.

         Hasil pengamatan survei sebelumnya di Manggarai Barat ini terdapat 40 segmen jagung dimana hanya 18 segmen yang memberikan informasi fase tumbuh jagung, sisanya berkode 9 dan 10.  Ada dua segmen dimana keempat sub segmennya berkode 10 yang terdapat di Kecamatan Lembor, informasi yang diperoleh segmen tersebut salah sasaran karena terjadi pergeseran usulan koordinat dari yang diperoleh di lapangan.

        Tim Monitoring melakukan pengamatan ke Kecamatan Komodo, Boleng, Mbeliling dan Lembor antara tanggal 15 – 19 November 2019. Hasil pengamatan lapangan, beberapa segmen perlu dilakukan pergeseran pada lokasi lahan jagung. Beberapa wilayah masih menunggu hujan turun untuk ditanami jagung seperti di Kecamatan Boleng, walaupun di bagian lain di kecamatan ini jagung sudah mencapai fase generatif. Di Kecamatan Lembor yang merupakan sentra produksi beras di Kabupaten Manggarai Barat lahan sawah sudah masuk fase pengolahan lahan sampai vegetatif akhir, tetapi telihat belum ada tanaman jagung yang ditanam. Di Kecamatan Komodo ditemukan tanaman jagung yang baru V1 sekitar 1 minggu baru ditanam.

         Aplikasi KSA jagung disematkan pada perangkat android membimbing untuk menuju lokasi segmen. Kode 9 yaitu lahan tanaman pangan yang tidak ditanami jagung hasil survey sebelumnya kemungkinan akan ditanami jagung bila hujan mulai datang, dan bisa pula terjadi bahwa lokasi segmen tersebut jatuh pada lahan pertanian lainnya seperti padi.

"POTENSI, DAMPAK DAN MITIGASINYA, TOWARD RESILIENT COMMUNITY”

     1a

      Seminar ilmiah bulanan yang diadakan oleh BMKG ini dilaksanakan pada tanggal 19 November 2019 di BMKG, Jakarta. Dari PTPSW, yang menghadiri acara ini adalah Marina Frederik. Seminar dibuka oleh kapuslitbang BMKG, Nelly Riama, MSi. dan diisi oleh 6 pembicara, yaitu: (1) Dr. Supriyanto Rohadi (BMKG) tentang gempa bumi besar di Indonesia: analisis gempa bumi terkini. Fokus presentasi pada gempa bumi di Ambon (26 September 2019) dan Maluku Utara (15 November). Penelitian ini berkesimpulan pentingnya mempelajari aspek pre-cursor gempa dan identifikasi sesar aktif di Indonesia. (2)  Rudy Soeprihadi, PhD (BAPPENAS) tentang kebijakan perencanaan pembangunan penanggulangan bencana 2020-2024: meningkatkan investasi pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan. Memperkenalkan program IDRIP yang bekerjasama dengan BMKG dalam upaya meningkatkan ketangguhan daerah-daerah prioritas khususnya kawasan pesisir untuk menghadapi bencana.Terdapat 3 agenda utama pembangunan terkait pengurangan risiko bencana: (a) pengembangan wilayah, (b) memperkuat infrastruktur, (c) membangun lingkungan hidup.

     (3) Dr. Andri Nugraha (ITB) tentang Identifikasi zona sesar aktif dan struktur 3-D seismic menggunakan jaringan seismograf lokal dan regional di wilayah Indonesia. Hasil studi ini mengidentifikasi seismic gap di pulau Lombok dan memetakan Flores oceanic crust. (4) Gayatri I. Marliyani, PhD tentang tsunami sebagai akibat perubahan vertikal dasar laut. Membahas berbagai mekanisme terjadinya tsunami dan sumber tsunami di dasar laut. Untuk studi peringatan dini tsunami, diperlukan identifikasi potensi sumber dan perulangan gempa serta pemodelan estimasi waktu dan sebaran inundasi.  (5) Bambang S. Putra, MKom tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami. Mengemukakan rata-rata kerugian tiap tahun akibat bencana adalah sebesar Rp. 34 Triliun dan perkiraan kerugian di tahun 2019 adalah Rp. 40 Triliun. Khusus pada dampak gempa bumi dan tsunami, sejak 2009 – 2019 adalah sekitar 7000 jiwa meninggal atau hilang, sebanyak > 1.7 juta unit bangunan rusak, dan lebih dari 4.5 juta jiwa mengungsi. Untuk itu, diperlukan percepatan pembangunan EWS gempa dan tsunami yang terintergrasi, menyeluruh dan inklusif. (6) Dr. Jaya Murjaya tentang analisis waktu perulangan gempa besar untuk mitigasi bencana. Hasil studi sejarah gempa Bengkulu (1833), Siberut (1797), Sumatera Utara (1861), dan Gorontalo (1941) dan berdasarkan perhitungan static stress drop, ditemukan estimasi waktu perulangan gempa besar di daerah-daerah tersebut

PENYERAHAN SERTIFIKAT REVIEWER PENELITIAN HOTEL SARI PACIFIC JAKARTA

4.43.4

 

          Tanggal 15 November 2019, bertempat di Ruang Kencana Hotel Sari Pacific, Direktorat Pengembangan Teknologi Industri Kemenristek, melakukan acara penyerahan sertifikat reviewer penelitian. Kegiatan ini adalah tindaklanjut dari kegiatan pelatihan selama seminggu serta uji kompetensi yang telah dilaksanakan pada tanggal 21-25 Oktober 2019. Peserta pelatihan yang dinyatakan lulus adalah 41 dari 42 peserta. Dr. Agustan termasuk sebagai salah satu peserta dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat yang diserahkan secara langsung. Ke depan, para reviewer penelitian yang telah bersertifikat ini mempunyai tanggung jawab untuk menelaah proposal penelitian yang diajukan, utamanya terhadap proposal yang diajukan oleh peneliti dari unit kerja sebelum dikirimkan kepada lembaga penyelenggara.

PERTEMUAN EVALUASI KEGIATAN BATIMETRI NASIONAL 2019 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN DAN INVESTASI

4.43.2       4.43.3

 

 

           Pada tanggal 14 November telah dilaksanakan pertemuan untuk mengevaluasi kegiatan integrasi data batimetri selama tahun 2019 di kantor Kemenko Maritim dan Investasi. Acara ini dipimpin oleh Ayodhia G. L. Kalake (KemenKoMarVes), Sigit dan Gatot (BIG) serta dihadiri oleh KESDM, DISHUBLA, PUSHIDROS. Mewakili PTPSW adalah Imam Mudita dan Marina Frederik. Di tahun 2019, telah dibentuk tim batimetri nasional dengan SK Kemenko Maritim no. 136 tahun 2019 dimana tim tersebut bertugas: (1) Menyusun rekomendasi kebijakan terkait penyelenggaraan batimetri nasional, (2) Sinkronisasi antar kemetrian/Lembaga dalam kegiatan survei batimetri, (3) Menyusun pedoman teknis terkait integrasi data batimetri nasional yang akan ditetapkan oleh pimpinan lembaga yang memiliki kewenangan di bidang informasi geospasial, (4) Melaksanakan proses integrasi data batimetri antar kementrian/Lembaga. Institusi yang terlibat adalah: KESDM, KemenHub, BIG, BPPT, LIPI dan Pushidros TNI AL.

Dari hasil pengumpulan data, telah dikembangkan laman Batimetri Nasional (http://batnas.big.go.id/) dimana berdasarkan kesepakatan, ditampilkan dengan resolusi spasial 100 m (interval 100 m, skala 1:10.000) atau sesuai dengan resolusi data yang tersedia. Selain itu, laman tersebut menampilkan lokasi-lokasi yang merupakan rencana survey di tahun 2020. Hal ini untuk meningkatkan sinkronisasi kegiatan dan akusisi data serta efisiensi sumberdaya. Di akhir tahun 2019 akan dikeluarkan dokumen pedoman teknis integrasi data batimetri. Kegiatan selanjutnya adalah finalisasi dokumen pedoman tersebut, klarifikasi akses data, sosialisasi pemanfaatan data, dan mengajak Pertamina dan swasta untuk berperan serta pada kegiatan batimetri nasional ini.

Subcategories

Statistik Pengunjung

1.png3.png8.png4.png7.png5.png
Today108
Yesterday133
This week354
This month1444

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) - BPPT 

Gedung Geostech 820 Kawasan Puspitek Serpong

Telp. 021.75791377, 021.75751379; Ext. 9025/4404

Fax. 021.75791401

    logo iso qm