Tel: (021) 7579 1377      Email: sekr-ptpsw@bppt.go.id

Hai Mitra Teknopren, minggu lalu pada bagian ke-1 PTPSW-BPPT telah mengulas bagaimana perkembangan pertumbuhan La Nina “si anak gadis cantik” yang dilihat dari pergerakan rambatan anomali suhu permukaan laut di Ekuatorial Samudera Pasifik. Hasil pembahasan minggu lalu telah terungkap bagaimana si anak cantik La Nina dengan massa air hangatnya bergerak sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik seiring dengan karakteristik Gelombang Rossby yang mengumpulkan massa air hangat tersebut di perairan ekuatorial sebelah timur Indonesia membentuk apa yang dinamakan kolam air hangat (warm water pool) dalam jumlah yang lebih besar dari kondisi normalnya. Nah kali ini, sesuai dengan janji kita minggu lalu akan membahas hal yang jarang diketahui orang pada umumnya yaitu bagaimana prilaku rambatan anomali Kedalaman Dinamik Absolut (KDA) di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Tetapi sebelumnya, apakah Mitra Teknopren sudah tahu apa itu anomali KDA…? Sebelum memahami KDA, Mitra Teknopren perlu diperkenalkan dengan istilah Marine Geoid (Geiod Laut). Geoid laut atau kita sebut selanjutnya satu kata saja yaitu geoid adalah bentuk paparan muka laut dengan asumsi tidak adanya gaya gangguan pada permukaan laut tersebut dari pasang surut, angin, arus dan lain-lain. Geoid ini adalah merupakan permukaan laut cerminan dari medan gravitasi bumi yaitu permukaan ekuipotensial. Geoid ini dipengaruhi oleh distribusi massa bumi yang beragam dan tidak merata dari mulai permukaan sampai inti bumi.

Nah Mitra Teknopren, sementara itu KDA adalah rata-rata tinggi muka laut yang dihitung dari muka laut sampai dengan geoid sehingga anomali KDA adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) tinggi muka laut dari geoid terhadap kondisi normalnya. Perubahan tinggi muka laut ini sangat terkait dengan pembentukan arus permukaan laut yang dihasilkan tanpa dipengaruhi friksi angin di atas permukaan laut dan pengaruh pasang surut dari gaya gravitasi benda langit seperti bulan dan matahari. Perbedaan karakteristik massa air perairan terutama massa jenis air laut pada kolom permukaan maupun kolom kedalaman perairan akan membentuk pola sirkulasi arus di permukaan maupun pada suatu kolom kedalaman perairan tertentu. Pola sirkulasi arus yang tanpa dipengaruhi oleh angin permukaan laut dan arus yang terbentuk dari perbedaan fase pasang surut ini akan memperlihatkan bagaimana peranan arus dari KDA untuk terbentuknya proses transisi dari La Nina lemah ke La Nina moderat sampai ke La Nina kuat tipe konvensional.

AnomaliKedalamanDinamikAbsolutHarianBag2

Seperti Mitra Teknopren ketahui dari ulasan hasil kaji terap PTPSW-BPPT sebelumnya mengenai La Nina 2020/21, bahwa ketika terjadi fenomena La Nina, Angin Pasat Tenggara dan Angin Pasat Timur Laut berhembus dengan kuat di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Dorongan angin ini mengakibatkanmassa air di sepanjang ekuatorial akan terdorong dari sebelah timur ekuatorial Samudera Pasifik ke arah barat sampaidi perairan sebelah timur Benua Maritim Indonesia (BMI) yaitu berada sebelah utara perairan Papua. Kondisi ini berlangsung dalam kurun waktu berbulan-bulan sehingga terjadi penumpukan massa air di perairan sebelah utara Papua karena aliran massa airnya sedikit terhalang oleh paparan Benua dan pulau-pulau di Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik. Semakin tertumpuknya massa air ini dan karena terhalang aliran massa air yang melewati Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) atau Indonesia Throughflow (ITF) maka dengan adanya persamaan kontinyuitas mau tidak mau penumpukan massa air ini akan bergerak ke arah atas. Oleh karena itu, maka kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan tinggi muka laut akibat penumpukan massa air karena dorongan angin permukaan laut.

Nah tentunya Mitra Teknopren berfikir, lantas kaitanya dengan anomali KDA apa…? Mari kita lanjut mengulasnya… Selain penumpukan massa air yang terjadi karena dorongan angin, ternyata dipengaruhi pula oleh terjadinya perubahan dari karakteristik massa air itu sendiri karena penumpukan massa air tersebut yang mengakibatkan parameter suhu, salinitas dan tekanan air laut akan berubah. Perubahan ini akan mengakibatkan terjadi perubahan densitas (massa jenis) air laut dan peningkatan volume massa air laut. Peningkatan volume massa air laut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan tinggi muka laut dari geoid. Peningkatan tinggi muka laut dari geoid inilah yang disebut sebagai anomali KDA. Pada animasi anomali KDA harian dalam setahun dari tanggal 1 Januari – 31 Desember 2020 di bawah ini, Mitra Teknopren dapat mengamati bagaimana pergerakan rambatan anomali KDA di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik sampai akhirnya lahirlah si anak gadis cantik yang bernama La Nina. Mitra Teknopren juga dapat mengamati bagaimana La Nina ini terbentuk menjadi La Nina Konvensional bertipe kuat.

 

Mitra Teknopren sudah paham kan tentang penjelasan diagram hovmoller pada ulasan kaji terap minggu lalu… Yuk kita lihat kembali tapi dengan parameternya yaitu anomali KDA. Diagram hovmoller pada gambar memperlihatkan dari bulan Januari sampai dengan akhir Maret 2020, kondisi anomali KDA masih dalam status normal dimana Angin Pasat Tenggara dan Timur Laut masih berhembus dengan normal. Terlihat bahwa anomali KDA maksimum masih berada pada sekitar 150°-185°BT. Sepanjang bulan Maret terjadi penurunan anomali KDA. Kondisi ini relatif normal karena terjadi pelemahan Angin Pasat. Akan tetapi ketika memasuki bulan April, anomali KDA terdorong oleh Angin Pasat dengan sangat kuat ke arah barat sampai pada 125°-160°BT terdorong memasuki ke arah perairan sebelah utara Papua. Kondisi ini perlu diperhatikan dan dipantau terus-menerus sampai kurang lebih 3-5 bulan kedepan. Apabila kondisi ini tetap terjadi selama lebih dari 5 bulan kedepan maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi fenomena La Nina. Selain itu, perlu dipantau kembali kondisi anomali KDA di perairan dalam Indonesia di sekitar 115°BT, apabila terjadi peningkatan anomali KDA setelah kurun waktu 5 bulan tersebut secara terus menerus maka dapat dipastikan bahwa telah terjadi fenomena La Nina kuat bertipe konvensional. Sampai dengan saat ini, di perairan dalam Indonesia telah terjadi peningkatan anomali KDA dengan nilai anomali positifnya bertahan sebesar di atas 1.25 meter. Kondisi ini semakin menguatkan bahwa fase La Nina saat ini adalah merupakan La Nina bertipe kuat. Seiiring dengan telah memasukinya puncak musim hujan di bulan Januari 2021 diiringi dengan La Nina kuat bertipe konvensional dan menjelang masuknya MJO pada fase-4 dan 5 di Benua Maritim Indonesia maka agar diwaspadai terjadi peningkatan curah hujan yang diduga cukup ekstrim di Pulau Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, NTB dan Pulau Kalimatan sebelah barat.

Selain itu, anomali KDA ini dapat digunakan pula untuk mengetahui lebih dini kapan mulai melemahnya fase La Nina kuat yang saat ini sedang terjadi. Kenapa anomali KDA ini dapat dijadikan indikator atau prediktor melemahnya fase La Nina? Tentunya ada penjelasan saintifik akan tetapi terlalu panjang untuk diceritakan. Secara singkat, bahwa apabila anomali KDA mulai menurun maka telah terjadi arus balik yang bergerak dari sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik menuju tengah dan timur ekuatorial Samudera Pasifik dan diikuti dengan massa air hangat yang akan menstabilkan kondisi dinamika dan variabilitas laut-atmosfer di ekuatorial Samudera Pasifik. Jika telah berada pada posisi setimbang maka dinamika interaksi darat-laut-atmosfer termasuk intensitas curah hujan di BMI akan kembali menjadi normal seperti sedia kala. Kapan itu terjadi Mitra Teknopren…? Mari kita tunggu perkembangannya. Sampai disini dulu ya ulasan dari kami PTPSW-BPPT untuk berbagi hasil kaji terap kami. Minggu depan hari Rabu tanggal 20 Januari 2021, kita akan coba berbagi hasil kaji terap kembali dengan tema yang sama bagian ke-3 tapi parameter yang berbeda yaitu Anomali Tinggi Muka Laut. Nah lhoh… apa bedanya anomali tinggi muka laut dengan anomali KDA. Yuk kita simak nanti minggu depan ya…

Statistik Pengunjung

1.png6.png2.png5.png1.png6.png
Today143
Yesterday152
This week704
This month3537

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) - BPPT 

Gedung Geostech 820 Kawasan Puspitek Serpong

Telp. 021.75791377, 021.75751379; Ext. 9025/4404

Fax. 021.75791401

    logo iso qm