Tel: (021) 7579 1377      Email: sekr-ptpsw@bppt.go.id

Hai Mitra Teknopren, apa kabarnya saat ini? Mudah-mudahan selalu bahagia setiap saat… Tak terasa saat ini adalah tulisan berbagi hasil kaji-terap PTPSW-BPPT yang ke-14 semenjak PTPSW menyatakan telah terjadi fenomena La Nina pada tanggal 24 September 2020 di BMI dan ditengarai akan berkembang menjadi La Nina kuat bertipe konvensional seperti yang saat ini sedang terjadi. Oleh karena itu, tulisan ini adalah tulisan terakhir (tulisan penutup) mengenai apa itu ENSO, El Nino, La Nina dan bagaimana proses terjadinya La Nina, proses dinamika pertumbuhan dari La Nina lemah ke La Nina kuat serta apa yang terjadi dari hasil interaksi La Nina dengan darat-laut-atmosfer berikut dengan fenomena lain yang mengiringinya meliputi Madden Julian Oscillation (MJO), Monsun dan Indian Ocean Dipole (IOD). Begitu pula telah dijabarkan pada tulisan sebelumnya dengan sesederhana mungkin bagaimana fenomena La Nina memberikan kontribusi peningkatan anomali curah hujan di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Mitra Teknopren, jika ingin mengetahui bagaimana perkembangan kondisi curah hujan pada hari-hari atau bulan-bulan yang akan datang dapat memantau informasinya melalui Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). PTPSW-BPPT dirasa telah cukup mengulas La Nina dengan hasil kaji-terapnya berikut inovasi yang telah ditawarkan pada tulisan sebelumnya untuk diterapkan secara operasional di BMKG.

Nah Mitra Teknopren pada tulisan minggu lalu di bagian ke-2, PTPSW-BPPT telah mengulas bagaimana perkembangan pertumbuhan La Nina “si anak gadis cantik” yang dilihat dari pergerakan rambatan anomali kedalaman dinamik absolut (KDA) di Ekuatorial Samudera Pasifik. Hasil ulasan minggu lalu telah menyingkap apa itu KDA, peranan KDA terhadap La Nina, bagaimana pertumbuhannya dan kematangan KDA terkait dengan La Nina kuat. Sementara itu, pada bagian ke-3 ini, PTPSW-BPPT akan mengulas mengenai tumbuh kembang “si anak gadis cantik” La Nina terhadap anomali tinggi muka laut (TML) di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik. Pada tulisan ke-2 dan ke-3 ini adalah tulisan yang saat ini masih jarang diketahui peranannya karena sedikit sekali yang meneliti dan mengkaji mengenai hal ini. PTPSW-BPPT mencoba membuat kaji-terap tersebut untuk melihat potensi inovasi sebagai terobosan bagaimana anomali KDA dan TML dapat dimanfaatkan sebagai prediktor La Nina dengan prediktannya parameter lainnya misalnya curah hujan, potensi banjir, tinggi gelombang, khlorofil-a dan lain-lain.

 AnomaliTinggiMukaLautHarian

 

Yuk Mitra Teknopren, sekarang kita mencoba mengulas perkembangan anomali TML di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik dan Hindia untuk memantau tumbuh kembang si anak gadis La Nina. Sebelum kita mengulasnya, ada baiknya kita membahas dulu apa itu TML dan apa bedanya dengan KDA. TML adalah ketinggian permukaan laut dari rata-rata tinggi muka laut atau sering disebut dalam bahasa umumnya adalah mean sea level (MSL). Sementara itu, MSL adalah level ketinggian rata-rata pada muka air di bumi pada suatu lokasi. Sedangkan kalau Mitra Teknopren ingat kembali, KDA adalah ketinggian permukaan air dari geoid laut. Okeh ya, dari sini Mitra Teknopren sudah paham kan beda antara TML dan KDA. Lantas apa hal prinsip penerapan dari TML dengan KDA. Jika KDA sangat dipengaruhi oleh medan gravitasi bumi, angin dan arus serta termasuk gaya gravitasi benda-benda langit lainnya, sementara itu TML hanya dipengaruhi oleh gravitasi bumi dan benda-benda langit lainnya seperti matahari dan bulan. Titik referensi KDA berdasarkan geoid laut dan titik referensi TML adalah berdasarkan rata-rata muka laut. Nah sudah paham kan Mitra Teknopren…

Sekarang yuk kita lanjut… mari kita mulai dengan mengamati animasi anomali tinggi muka laut harian dari tanggal 1 Januari - 31 Desember 2020 di bawah ini ya... Respon pertumbuhan La Nina dari anomali tinggi muka laut dapat terlihat dengan jelas di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia dan Pasifik. Rambatan pergerakan anomali TML positif di sepanjang ekuator Samudera Hindia terlihat semu bergerak dari sebelah barat ke arah timur dan rambatan ini disebut Gelombang Kelvin. Sementara itu, anomali TML positif bergerak dari arah timur ke arah barat di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik membentuk rambatan gelombang yang disebut Gelombang Rossby. Pada ekuatorial Samudera Hindia, rambatan Gelombang Kelvin ini mulai terbentuk pada semenjak awal tahun dan mulai terlihat propagasi yang cukup kuat kearah timur terjadi setelah bulan Mei 2020 sampai akhir Desember 2020. Mitra Teknopren mungkin ada yang mengamati sepertinya arah gerakan anomali TML di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia tidak bergerak dari barat ke arah timur tapi dari arah sebaliknya yaitu dari arah timur ke arah barat. Pandangan mata Mitra Teknopren tidak salah dan memang benar gerakannya ke arah barat. Hal ini adalah memang dalam kondisi normalnya anomali TML selalu bergerak ke arah barat karena pengaruh perputaran bumi pada porosnya yaitu bergerak dari arah timur ke arah barat sehingga reaksi permukaan laut terhadap gaya gravitasi benda-benda langit turut pula mengikuti pergerakan rotasi bumi sehingga arah gerak normalnya adalah dari timur ke arah barat. Ketika datang fenomena si anak gadis La Nina, terutama La Nina kuat bertipe konvensional maka anomali TML positif terlihat berubah arah menjadi berkebalikan dari arah barat ke arah timur menuju ke perairan sebelah barat Indonesia.

Sementara itu, di sepanjang ekuatorial Samudera Pasifik pada kondisi normalnya anomali TML positif umumnya berada di tengah ekuatorial karena respon medan gravitas bumi terlemah terhadap gaya gravitasi benda-benda langit berada di tengah paparan Samudera Pasifik. Ketika si anak gadis La Nina mulai menunjukan kelahirannya, yaitu pada awal April 2020 dan berlanjut semakin jelas pada bulan September 2020, maka anomali positif TML bergerak ke arah barat dan berkumpul di perairan sebelah timur ekuatorial perairan Indonesia. Oleh karena itu, pada akhir Desember 2020 di perairan Indonesia dan sekitarnya secara merata memiliki anomali TML yang positif. Inilah salah satu ciri bahwa periode La Nina 2020/21 saat ini adalah La Nina kuat bertipe konvensional.  Yuk sekarang Mitra Teknopren juga melihat pada gambar diagram Hovmoller anomali TML harian di sepanjang ekuatorial Samudera Hindia dan Pasifik pada lintang 0.125°LS dari tanggal 1 Januari – 31 Desember 2020. Di Samudera Pasifik, dari awal tahun 2020 anomali positif TML berada di tengah ekuatorial. Kemudian, mulai bergerak secara signifikan pada awal Maret. Penumpukan massa air hangat akibat anomali TML positif mulai terjadi di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik yaitu pada bulan April sampai dengan akhir Agustus. Anomali positif TML semakin meningkat dengan kuat terjadi pada pertengahan September 2020. Selama periode September sampai dengan Desember 2020, anomali positif TML selain di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik, juga terjadi anomali TML positif di sebelah timur ekuatorial Samudera Hindia. Hal inilah pula semakin meyakinkan bahwa periode La Nina 2020/21 saat ini adalah periode La Nina kuat bertipe konvensional. Peningkatan anomali positif TML di seluruh perairan Indonesia dan sekitarnya, termasuk perairan dalam Indonesia telah memiliki anomali positif TML. Hal ini menunjukan pula keterkaitan dengan penumpukan massa air hangat yang terjadi di perairan Indonesia dan sekitarnya dari pembahasan berbagi hasil kaji-terap PTPSW-BPPT pada bagian ke-1 yaitu tentang anomali suhu permukaan laut harian pada waktu lalu.

Demikian Mitra Teknopren yang baik hati… dengan berakhirnya tulisan yang ke-14 ini, maka PTPSW-BPPT telah selesai berbagi hasil kaji-terapnya mengenai La Nina. Semoga pengetahuan, inovasi dan terobosan ilmiah yang telah kami sampaikan sebanyak 14 tulisan semi ilimah ini dapat menambah wawasan, khasanah ilmiah dan semangat baru untuk tetap berkontribusi membangun bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini. Tujuannya adalah agar bangsa dan negara Indonesia dapat lebih berkembang dan maju menyongsong era transformasi digital dengan  penguasaan teknologi Big Data Kebumian dengan kecerdasan buatan. Dengannya kita diharapkan mampu untuk menguak misteri terpendam pada alam raya ciptaan Alloh SWT Tuhan yang Maha Pencipta untuk dipahami dan dimengerti prilakunya.

 

Statistik Pengunjung

1.png6.png2.png5.png1.png6.png
Today143
Yesterday152
This week704
This month3537

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) - BPPT 

Gedung Geostech 820 Kawasan Puspitek Serpong

Telp. 021.75791377, 021.75751379; Ext. 9025/4404

Fax. 021.75791401

    logo iso qm